Senin, 08 Oktober 2012

MODUL PRAKTIKUM PEMISAHAN EUGENOL DARI MINYAK CENGKEH
DENGAN CARA DISTILASI FRAKSINASI


PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Indonesia mempunyai potensi sebagai penghasil minyak atsiri yang berlimpah. Produk
minyak atsiri baru pada tahap menghasilkan minyak kasar (crude oil). Jika minyak kasar
tersebut diolah lebih lanjut menjadi berbagai komponen minyak esensial murni, maka akan
dihasilkan produk-produk minyak esensial yang lebih ekonomis. Salah satunya adalah minyak
cengkeh
Minyak cengkeh telah sejak lama digunakan untuk tujuan pengobatan dan gigi dan telah
diketahui dengan baik di negara-negara Barat sebagai bahan anestesi gigi. Minyak cengkeh (di
Indonesia) adalah produk alami yang tidak mahal dan dapat diperoleh dengan mudah di Asia
Tenggara. Minyak cengkeh di Indonesia secara tradisional diproduksi melalui proses distilasi
bunga, tangkai bunga, dan daun-daun pohon cengkeh Euginia aromatica. Komponen yang
paling dominan (70-90%) dan merupakan bahan aktif adalah fenol eugenol (Tamaru et al.,
1998). Di Amerika Serikat eugenol, isoeugenol dan vanili dibuat dari minyak cengkeh yang
berasal dari gagang atau daun cengkeh karena lebih mudah dilakukan (Guenther, 1990).
Penyulingan cengkeh dapat dilakukan dengan cara penyulingan air dan penyulingan
dengan uap. Menurut Guenther (1990), penyulingan dengan air dapat menghasilkan minyak
cengkeh dengan kandungan eugenol 80-85% dan cukup baik sebagai bahan baku parfum atau
flavor sedangkan penyulingan dengan uap dapat menghasilkan minyak cengkeh strong oil
dengan kandungan eugenol yang tinggi yaitu 91-95% volume. Lama penyulingan berkisar
antara 8-24 jam tergantung ukuran, sistem isolasi, vulume uap dari alat penyulingan, sifat alami
dan kondisi cengkeh dan sebagainya.
Kualitas minyak cengkeh dievaluasi berdasarkan kandungan fenolnya terutama eugenol.
Karena minyak cengkeh mengandung beberapa aseteugenol, maka sering dilakukan penyabunan
zat tersebut terlebih dahulu untuk mendapatkan kandungan eugenol yang lebih tinggi.
Kandungan fenol cengkeh tergantung pada kondisi dan jenis bahan baku cengkeh dan metode
penyulingan :
Pada waktu penyulingan minyak cengkeh terdapat dua fraksi yaitu fraksi yang lebih
ringan dari air dan fraksi yang lebih berat dari air. Dengan menggabungkan kedua fraksi
tersebut dihasilkan minyak cengkeh yang lengkap. Hasil minyak dari penyulingan bunga
cengkeh sekitar 17-18%, penyulingan dari gagang cengkeh sekitar 6% dan dari daun sekitar
2-3% (Guenther, 1990).
Salah satu cara pemisahan atau pemurnian komponen minyak adalah dengan distilasi
fraksional. Distilasi fraksinasi minyak atsiri adalah pemisahan komponen berdasarkan titik didih
3
dan berat molekulnya (Vogel 1958). Sedangkan menurut Guenthers (1990), Fraksinasi minyak
atsiri adalah pemisahan minyak atsiri menjadi beberapa fraksi berdasarkan perbedaan titik
didihnya. Sebaiknya minyak atsiri tidak difrakasinasi pada tekanan atmosfir, tetapi dalam
keadaan vakum karena tekanan tinggi dan suhu tinggi dapat mengakibatkan dekomposisi dan
resinifikasi, sehingga destilat mempunyai bau dan sifat fisiko kimia yang berbeda dengan
minyak murni.
TUJUAN
Memisahkan eugenol dari minyak cengkeh dengan menggunakan distilasi fraksinasi,
dimana eugenol diperoleh dari residu hasil fraksinasi minyak cengkeh. Hasil fraksinasi tersebut
kemudian dianalisis kandungan egugenolnya untuk menentukan rendemen operasi disitilasi
fraksinasi serta sifat-sifat fisik-kimia produk yang dihasilkan.
BAHAN DAN METODE
Bahan dan alat utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
Bahan-bahan : minyak cengkeh, pecahan es batu, aquades
Alat-alat pemisahan minyak cengkeh : satu set distilasi fraksional
Alat-alat analisis :
 GC untuk kadar eugenol dan komponen ringan lainnya
 Piknometer untuk mengukur densitas
 Polarimeter untuk mengukur putaran optik
 Refraktometer untuk mengukur indeks bias
 Tintimeter untuk mengukur warna minyak
 Tabung reaksi dan alat-alat analisis penunjang lainnya untuk menguji kelarutan minyak
pada alkohol Titrasi Iod untuk menentukan adanya minyak lain seperti minyak damar
Penelitian dilakukan di LIPI Laboratorium Kimia Terapan pada tahun 2002. Penelitian
dilakukan secara eksperimental deskriptif, terdiri dari dua proses, yaitu :
1. Proses pemisahan eugenol dari minyak cengkeh dengan alat distilasi fraksional, dengan
perlakuan fraksinasi suhu 200oC dan 250oC
2. Analisis fisik dan kimia minyak cengkeh maupun eugenol yang dihasilkan.
Pelaksanaan Penelitian
1. Distilasi Fraksinasi Minyak Cengkeh
Kelengkapan peralatan distilasi fraksinasi diperiksa. Kemudian dari sistem pemakuman
tekanan udara terdapat bagian trapping yang harus diisi pecahan es untuk mencegah
4
tersedotnya fase gas ke dalam pompa vakum. Selanjutnya adalah pengisian labu berleher tiga
dengan bahan baku minyak cengkeh sekitar 1,5 L yang akan didistilasi dan memasangkannya
kembali. Sistem kondensor harus dialiri air untuk mengkondensasikan fase gas pada bagian
distilat dan pengukur tekanan. Jika sistem sudah siap oerasi, maka pada bagian komputer diset
program distilasi sesuai dengan rencana distilasi. Setelah setting program selesai barulah
tekanan vakum dan heater dinyalakan. Sistem destilasi ini secara otomatis akan bekerja sesuai
dengan setting program.
2. Analisis Fisik-kimia Minyak
a. Kadar Eugenol dengan menggunakan kromatografi gas (Gas Chromatography Flame Ionize
Detector, GC FID)
b. Bobot Jenis dengan piknometer (AOAC, 1990)
c. Indeks bias dengan refraktometer (AOAC, 1990)
d. Putaran optik dengan polarimeter (Guenther, 1990)
e. Uji warna dengan tintimeter (Lovibond, 1999)
f. Kelarutan dalam alkohol 90% (Guenther, 1990)
g. Zat asing : (a) Lemak (Guenther, 1990)
 (b) Minyak keruing (Guenther, 1990)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar